Kapan kita benar-benar serius menyusun rencana untuk
mencapai keinginan kita? Saat apa yang kita inginkan itu benar-benar sesuatu
yang berharga dan pantas untuk diperjuangkan, betul? Bagi yang pernah
mengerjakan tugas akhir pasti pernah merasakannya. Mahasiswa mana yang tidak
ingin lulus tepat waktu, entah karena tidak ingin bayaran lagi, ingin segera
mengakhiri status mahasiswa dan mulai mencari pekerjaan atau ingin segera melihat
kebanggaan di mata orang tua, bermacam-macam latar belakangnya. Lulus tepat
waktu menjadi keinginan yang saat berharga dan pantas untuk diperjuangkan, itulah
cita-cita. Segala cara dilakukan untuk dapat meraihnya. Cita-cita adalah mimpi yang dibangun dengan keyakinan sehingga ia
menjadi tujuan hidup yang ingin dicapai. Ada yang bermimpi tapi hanya sebatas
angan-angan, ada juga yang bermimpi dan mimpi itu mampu menggerakkan dirinya
untuk meraih mimpi-mimpi yang bahkan mustahil sekalipun. Apa yang membedakan? Ialah
KEYAKINAN. “Saya harus mendapatkannya
karena ia begitu berharga”, itulah keyakinan. Al-quran telah
menuntun kita bagaimana membangun mimpi yang dilandasi oleh keyakinan.
“Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku” (Q.S Adz dzaariyaat: 56)
Bahwa diciptakannya kita oleh Allah SWT
semata-mata hanya untuk beribadah kepadaNya, sehingga hidup dan kehidupan kita
hanya dalam rangka melakukan pengabdian kepadaNya. Hendaknya inilah yang
menjadi tujuan hidup kita sebagai hamba Allah SWT.
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka
berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al Baqarah:30)
”Hai
Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah
(penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia
dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan
kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah
akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” (Q.S
Shaad:26)
Diciptakannya kita oleh Allah SWT agar kita
dapat menjalankan fungsi kekhalifahan di muka bumi, memelihara bumi berdasarkan
kepengaturan Allah SWT, bukan mengikuti hawa nafsu belaka. Bagaimana kita
meraih tujuan hidup untuk mengabdi kepada Allah SWT? Yaitu dengan menjalankan
fungsi kekhalifahan. Berkaca dari kondisi bangsa kita saat ini yang kaya dengan
permasalahan yang semuanya disebabkan oleh ulah tangan manusianya sendiri, baik
itu masalah bencana alam atau sosial kemasyarakatan, maka bisakah kita menjadi
bagian dari solusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut?
“Dan
tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan
sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang
yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S Al An‘aam: 32)
Dunia hanya main-main dan senda gurau. Jika dunia
dan isinya hanya senda gurau belaka, maka apa sebenarnya sesuatu yang begitu
besar, begitu berharga dan itu pantas untuk kita perjuangkan? Ialah kehidupan
yang sesungguhnya nanti di akhirat, kampung halaman kita, saat dimana kita
mempertanggungjawabkan semua yang sudah kita lakukan di dunia. Keselamatan di
akhirat hendaknya menjadi cita-cita kita dan mengawal semua mimpi-mimpi kita di
dunia.
Setiap kita punya mimpi, jika ingin menjadi
mahasiswa, maka jadikanlah status mahasiswa sebagai lahan ibadah dengan tidak menanggalkan
fungsi kekhalifahan yang Allah SWT amanahkan yaitu menjadi mahasiswa yang bisa memberikan solusi terhadap permasalahan umat dan karena pertanggungjawaban di akhirat menjadi landasan, maka status itu harus diperjuangkan dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Sama halnya jika ingin menjadi dokter maka
jadikanlah profesi dokter sebagai lahan ibadah dengan tidak menanggalkan fungsi
kekhalifahan yang Allah SWT amanahkan dan akhirat menjadi landasan sehingga
profesi itu harus diperjuangkan. Jangan takut untuk bermimpi,
bangunlah mimpi setinggi-tingginya, mimpi yang landasi iman, lalu siapkan
diri untuk meraihnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar