14 Februari 2016

Bangun Mimpi, Siapkan Diri

Kapan kita benar-benar serius menyusun rencana untuk mencapai keinginan kita? Saat apa yang kita inginkan itu benar-benar sesuatu yang berharga dan pantas untuk diperjuangkan, betul? Bagi yang pernah mengerjakan tugas akhir pasti pernah merasakannya. Mahasiswa mana yang tidak ingin lulus tepat waktu, entah karena tidak ingin bayaran lagi, ingin segera mengakhiri status mahasiswa dan mulai mencari pekerjaan atau ingin segera melihat kebanggaan di mata orang tua, bermacam-macam latar belakangnya. Lulus tepat waktu menjadi keinginan yang saat berharga dan pantas untuk diperjuangkan, itulah cita-cita. Segala cara dilakukan untuk dapat meraihnya. Cita-cita adalah mimpi yang dibangun dengan keyakinan sehingga ia menjadi tujuan hidup yang ingin dicapai. Ada yang bermimpi tapi hanya sebatas angan-angan, ada juga yang bermimpi dan mimpi itu mampu menggerakkan dirinya untuk meraih mimpi-mimpi yang bahkan mustahil sekalipun. Apa yang membedakan? Ialah KEYAKINAN.  “Saya harus mendapatkannya karena ia begitu berharga”, itulah keyakinan. Al-quran telah menuntun kita bagaimana membangun mimpi yang dilandasi oleh keyakinan.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Q.S Adz dzaariyaat: 56)

Bahwa diciptakannya kita oleh Allah SWT semata-mata hanya untuk beribadah kepadaNya, sehingga hidup dan kehidupan kita hanya dalam rangka melakukan pengabdian kepadaNya. Hendaknya inilah yang menjadi tujuan hidup kita sebagai hamba Allah SWT.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al Baqarah:30)

”Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” (Q.S Shaad:26)

Diciptakannya kita oleh Allah SWT agar kita dapat menjalankan fungsi kekhalifahan di muka bumi, memelihara bumi berdasarkan kepengaturan Allah SWT, bukan mengikuti hawa nafsu belaka. Bagaimana kita meraih tujuan hidup untuk mengabdi kepada Allah SWT? Yaitu dengan menjalankan fungsi kekhalifahan. Berkaca dari kondisi bangsa kita saat ini yang kaya dengan permasalahan yang semuanya disebabkan oleh ulah tangan manusianya sendiri, baik itu masalah bencana alam atau sosial kemasyarakatan, maka bisakah kita menjadi bagian dari solusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut?

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S Al An‘aam: 32)

Dunia hanya main-main dan senda gurau. Jika dunia dan isinya hanya senda gurau belaka, maka apa sebenarnya sesuatu yang begitu besar, begitu berharga dan itu pantas untuk kita perjuangkan? Ialah kehidupan yang sesungguhnya nanti di akhirat, kampung halaman kita, saat dimana kita mempertanggungjawabkan semua yang sudah kita lakukan di dunia. Keselamatan di akhirat hendaknya menjadi cita-cita kita dan mengawal semua mimpi-mimpi kita di dunia.

Setiap kita punya mimpi, jika ingin menjadi mahasiswa, maka jadikanlah status mahasiswa sebagai lahan ibadah dengan tidak menanggalkan fungsi kekhalifahan yang Allah SWT amanahkan yaitu menjadi mahasiswa yang bisa memberikan solusi terhadap permasalahan umat dan karena pertanggungjawaban di akhirat menjadi landasan, maka status itu harus diperjuangkan dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Sama halnya jika ingin menjadi dokter maka jadikanlah profesi dokter sebagai lahan ibadah dengan tidak menanggalkan fungsi kekhalifahan yang Allah SWT amanahkan dan akhirat menjadi landasan sehingga profesi itu harus diperjuangkan. Jangan takut untuk bermimpi, bangunlah mimpi setinggi-tingginya, mimpi yang landasi iman, lalu siapkan diri untuk meraihnya.  

 “Bangunlah mimpi kalian setinggi mungkin, karena itu akan memberi kalian arah dalam perjalanan hidup kalian. Kemudian transformasikanlah mimpi itu menjadi suatu keyakinan karena keyakinan akan selalu menghasilkan energi berupa kegigihan, ketekunan, daya juang, dan itu semua akan merupakan kunci untuk membuka pintu-pintu keajaiban menuju masa depan yaitu berupa terwujudnya mimpi-mimpi yang bahkan sekarang nampak mustahil sekalipun”(Prof. Hermawan K. Dipojono)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar