6 November 2014

Duta Pertama nan Harum Namanya: Mush’ab bin Umair - Part I



Kalau ada yang bertanya, siapa tokoh yang paling saya kagumi? Yap, bapak duta pertama Islam inilah jawabannya, salah satu tokoh yang paling saya kagumi dan saluti se antero dunia ini. Berapa kali pun diulang-ulang membaca atau mendengar kisah beliau, selalu saja merinding alias menyentuh. Saya yakin tidak semua kita mengenalnya, sebab seingat saya kisah beliau belum pernah khusus dikupas di stasion tv mana pun, pun tidak diangkat menjadi sebuah sinetron ratusan episode, pun juga tidak pernah jadi headline ato cover majalah terkenal hehe...Tapi bagi saya dia salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam mengubah peradaban dunia, khususnya dunia Islam. Yuk kita intip siapakah beliau? 

Mush’ab bin Umair adalah salah satu sahabat Nabi Muhammas SAW. Sebelum menerima Islam, ia adalah seorang remaja yang terkemuka di kaum Quraisy Mekah. Tampan, ganteng, pintar, penuh dengan semangat, digandrungi para gadis-gadis. Beliau termasuk remaja yang beruntung saat itu, hidup mewah dan dimanjakan oleh orang tua dengan segala fasilitasnya. Kalau sekarang seperti Raffi Ahmad, Afgan, Al, El, Dul ato anak-anak menteri kali ya hehe...(ngayal).  

Suatu hari beliau mendengar berita yang sudah tersebar luas di kalangan warga Mekah, berita tentang Muhammad al-amin. Berita yang mengatakan bahwa Muhammad al-amin telah diutus oleh Allah SWT sebagai pembawa berita yang mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa. Walaupun beliau remaja yang manja, namun karena kepintarannya dalam menemukan solusi permasalahan, beliau diperhitungkan oleh teman-temannya untuk menghadiri pertemuan-pertemuan atau majelis sehingga sampailah berita Muhammad al-amin yang sedang banyak diperbincangkan itu ke telinganya. Diantara berita yang beliau dengar adalah bahwa Rasulullah Muhammad dan pengikutnya biasanya mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar dari gangguan dan ancaman Quraisy, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Tidak menunggu waktu lama, remaja dengan keingintahuan yang besar itu akhirnya terdorong untuk pergi ke rumah Arqom bersama pengikut Rasulullah yang lainnya. Di sana Rasulullah membacakan ayat-ayat Allah SWT dan mengajarkan bagaimana beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar. Ayat-ayat yang mengalir dari bibir Rasulullah meresap ke hati para pengikutnya, termasuk ke dalam hati seorang remaja manja yang haus akan ilmu. Saat itu, Mush’ab terpesona oleh untaian kalimat yang disampaikan oleh Rasulullah. Dengan kepekaan hatinya dan keluasan ilmu dan hikmah yang beliau miliki, akhirnya beliau menerima Iman dan Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad, sehingga sejak saat itu beliau telah menganut Islam.

Ketika Mush’ab menganut Islam, tidak ada satu kekuatanpun di dunia ini yang ia khawatirkan, kecuali kekuatan Ibunya sendiri. Bahkan kekuatan pembesar-pembesar dan penduduk Mekah saat itu yang begitu membenci dan ingin menghancurkan Rasulullah pun ia anggap enteng.  Ia berpikir keras untuk menyembunyikan keislamannya karena tau betapa akan murkanya Sang Ibu jika mengetahui tentang keislamannya. Seperti penyusup, Mush’ab bolak balik ke rumah Arqam dengan sembunyi-sembunyi, sampai suatu waktu rahasia yang apik disembunyikan tercium oleh masyarakat Quraisy dan sampai juga ke telinga Sang Ibu.

Benar saja, mengetahui keislaman anaknya, sang Ibu pun murka. Namun, dengan hati yang yakin dan pasti disampaikanlah ayat-ayat Al quran yang dibawa oleh Rasulullah oleh Mush'ab kepada Ibunya. Sampai-sampai tangan sang Ibu yang tadinya ingin membungkam mulut anaknya itu terkulai melihat wajah anaknya yang bercahaya dan semakin berwibawa. Tapi apa boleh dikata, demi membela berhala-halanya, Sang Ibu tak dapat menahan diri dari kemurkaannya. Ia pun membawa Mush'ab ke suatu tempat yang terpencil dan mengurung beliau di sana.

Cukup lama Mush'ab dikurung oleh Ibunya, sampai pada suatu waktu beberapa orang muslim hijrah ke Habsyi. Mendengar kabar tersebut Mush'ab mencari cara agar bisa keluar dari kurungan dan ikut dengan sahabat lainnya berhijrah ke Habsyi dan ia pun berhasil. Mush'ab akhirnya tinggal di Habsyi bersama sahabat-sahabat kaum Muhajirin lainnya. Saat Mush'ab pulang lagi ke Mekah, siapa sangka masa itu adalah masa akhir pertemuan beliau dengan Ibunya. Ibunya berencana ingin mengurung beliau kembali, namun mush'ab menantang jika rencana itu dilakukan oleh Ibunya maka beliau menyatakan tekad akan membunuh suruhan-suruhan Ibunya tersebut. Begitu bulat tekad keduanya membela agamanya. Mush'ab dengan rasa kasihan telah menasehati Ibunya agar menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan menerima Muhammad sebagai utusan Allah, namun Ibunya dengan kegigihan luar biasa dengan kekafirannya bersumpah demi bintang bahwa Ia sekali-kali tidak akan memasuki agama Mush'ab. Akhirnya, melihat tekad yang kuat dari keduanya mereka memutuskan untuk berpisah dengan bercucuran air mata, kesedihan yang mendalam dirasakan Mush'ab saat harus meninggalkan Ibunya.

Semenjak mereka berpisah, sang Ibu menghentikan segala fasilitas kemewahan yang dulu Ia berikan pada anaknya. Ibunya bahkan tidak sudi nasinya di makan oleh orang yang telah mengingkari berhala walaupun itu adalah anak kandungnya sendiri. Pemuda ganteng itu kini memilih hidup miskin dengan pakaian usang dengan kadang makan dan kadang lapar.

Pernah pada suatu waktu Mush'ab tampil dihadapan para sahabat lainnya yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah. Para sahabat tak kuasa memandang Mush'ab dengan pakaian jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum hilang dari ingatan mereka sebelum Mush'ab masuk islam beliau adalah seorang pemuda bagaikan bunga di taman, berwarna warni dan menebarkan bau yang wangi. Para sahabat hanya menundukan kepala dan ada juga yang menatap sambil berlinangan air mata. Namun, Rasulullah memandang Mush'ab dengan rasa cinta dan kasih sayang, rasa syukur terlihat dari senyum Rasulullah yang mulia seraya bersabda:
"Dahulu saya lihat Mush'ab ini tidak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasulnya".

Subhanallah, begitulah Mush'ab karena tempaan Rasullah bisa menemukan apa yang beliau cari sebenarnya. Walaupun hidup yang beliau jalani berputar 180 derajat dari kehidupan sebelumnya, tetapi beliau puas karena beliau menemukan kehidupan yang layak beliau persembahkan untuk Penciptanya. Hidup bukan tentang popularitas ataupun kemewahan, Mush'ab mengajarkan hidup adalah tentang pengorbanan menemukan Cahaya Ilahi, Cahaya yang membuat dirinya menjadi manusia yang lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani. 

14 Oktober 2014

Ngulik Hikmah Idul Qurban


Sebut saja namanya Si Cantik. Si cantik adalah fresh graduate dari sebuah perguruan tinggi di Bandung. Menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) sudah lebih dari enam bulan. Sudah ketebak kan sekarang kesibukannya apa aja hehe, ikut jobfair dimana-mana, melamar kemana-mana, sering ke luar kota untuk tes atau interview dan paling anti kalau di undang ke mantan kampusnya, coba tebak kenapa ;)

Sudah beberapa ikut tes kerja tapi belum ada yang keterima. Suatu saat Si Cantik lolos tahap 2 terakhir sebuah rangkaian tes masuk kerja di sebuah bank, tinggal 1 tahap lagi Si Cantik akan melepas status pengacaranya. Tes tahap akhir sudah dilalui, hari demi hari, minggu demi minggu ditunggu, panggilan tak kunjung datang. sampai pada suatu waktu si cantik mendengar kabar kalau beberapa teman seperjuangan yang mengikuti tes tersebut satu per satu mendapat panggilan. Harap harap cemas dan sampailah Si cantik pada kesimpulan bahwa dia tidak lolos karena ditunggu beberapa hari panggilan tetap tak kunjung datang.

Kira-kira apa yang Si Cantik rasakan? Ibarat anak kecil diperlihatkan mainan, ingin memiliki, terus meminta minta tapi ga pernah dikasih, apalagi yang bisa dilakukan si anak, hanya tangis yang pecah. Tapi Si cantik bukan anak kecil, dia menangis bukan untuk menarik perhatian atau sekedar mengeluarkan amarah. "Kenapa saya begini? sampai kapan saya begini?, saya lelah" itulah kira-kira ungkapan yang keluar dari Si Cantik. Sedih karena merasa belum bisa membahagiakan orang tua, sedih karena selalu merepotkan orang tua, merasa diri harapan satu-satunya keluarga, merasa hanya diri yang bisa membuat orang tua bahagia, ya dengan mendapatkan pekerjaan yang pantas.

Buat saya kisah ini menarik, karena belum lama ini saya juga merasakan kegagalan yang persis sama. Hampir 2 tahun pernikahan tapi belum ada tanda-tanda mendapatkan momongan. Setiap bulan saya selalu menunggu-nunggu "hamil ga ya", harap-harap cemas kalau terlambat "dapet". Padahal baru  2 tahun ya, banyak sekali pasangan yang bertahun-tahun belum dikaruniai momongan (jadi malu sendiri kalau ingat itu). Sampai pada satu titik saya mempertanyakan persis seperti apa yang ditanyakan Si Cantik, "kenapa ya", "sampai kapan". Saat itu saya merasa kenapa orang lain dengan mudahnya Allah swt kasih sedangkan saya ga, mupeng kalau liat ibu-ibu hamil dan gendong baby, merasa ga enak sama mertua karena belum ngasih cucu, pemikiran sederhana abis nikah harusnya punya anak dong. Sebuah surat di dalam Al-quran rekomendasi dari suami akhirnya membuka mata saya

Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan?
Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.
Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?
Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan, (Q.S 56: 57-60)

Kamu yang menciptakan, atau Kamikah yang menciptakan? nutfah yang kamu pancarkan, kamu yang menghidupkan atau Kamikah yang menghidupkan, pohon yang kamu tanam, kamu yang menumbuhkan atau Kamikah yang menumbuhkan? sesungguhnya Allah lah yang menentukan kematian dan Dia tidak bisa dikalahkan. Kenapa manusia kecewa? karena seringkali manusia tidak meyakini bahwa ada campur tangan Allah dalam setiap langkah hidupnya, karena manusia seringkali menjadikan perkataan, harapan atau pencapaian orang lain sebagai standar keberhasilan dirinya, karena manusia seringkali menilai dengan persepsinya sendiri.

Saya teringat kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah swt untuk menyembelih Ismail anaknya. Bapak mana yang tega anak yang sudah ditunggu-tunggu kedatangan, lalu setelah lahir harus ditinggalkan karena tugas dakwah, bertemu kembali setelah remaja dengan rindu yang luar biasa, anak yang begitu beliau harapkan dan beliau cintai, lalu diperintahkan untuk disembelih. bagi manusia biasa, yang punya akal dan perasaan itu bukan perintah yang mudah untuk dikerjakan. Ibrahim sama sekali tidak mengetahui bahwa nantinya Ismail akan digantikan dengan hewan, yang beliau tahu adalah ini adalah perintah Allah swt yang harus dikerjakan. Yang paling menarik adalah Nabi Ibrahim tidak mempertanyakan, "kenapa begini?", "saya lelah dengan semua ini", atau "sampai kapan saya diuji begini?" 

Nabi Ibrahim mengajarkan beberapa hal, pertama ketenangan beliau saat ujian dari Allah swt, yang saya yakin ketenangan itu muncul dari besarnya kepercayaan beliau kepada Allah swt. keyakinan bahwa Allah swt yang berhak untuk didengar dan diikuti perkataannya, bukan orang lain, bukan juga persepsi diri sendiri. Kedua, Ibrahim mengajarkan kita untuk "meninggal". Konon katanya sakit saat sakaratul maut bergantung pada seberapa banyak dunia mengikat diri kita. Ibrahim mengajarkan kita untuk meninggal, latihan melepaskan satu persatu dunia yang melilit diri dan jiwa kita. ketiga, perintah qurban adalah perintah yang tidak logis, hanya orang-orang yang ikhlas dan sabarlah yang bisa menjalankan qurban/berqurban. Tidak ada ikhlas tanpa ketaatan dan tidak ada sabar tanpa keikhlasan.

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Q.S 108:1-3)

Ujian saya dan Si Cantik sangat tidak sebanding jika dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Namun, jika kita mencoba menghayati, maka ujian-ujian kehidupan yang kita alami adalah ketetapan Allah swt untuk membersihkan nilai-nilai keduniawian dalam diri
kita, seperti halnya yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahin. Apakah benar Allah swt saja yang bertahta di dalam jiwa kita. Anak, keluarga, pekerjaan, harta, martabat dihadapan manusia adalah "ismail-ismail" yang Allah swt hadirkan untuk menguji keimanan kita. Siapkah kita mengorbankan "ismail-ismail" yang sangat kita cintai untuk membuktikan ketaatan kita kepada Allah swt?

Kesiapan berqurban tentunya tidak datang begitu saja, tentunya lahir dari proses sebelumnya. Seorang Ibrahim tidak serta merta siap mengorbankan Ismailnya tanpa sebelumnya dilatih oleh Allah swt dengan ujian-ujian sehingga jiwa-jiwa pengorbanan terus terpupuk dan tumbuh di dalam dirinya. Kenapa seorang Ibu mau berkorban untuk anaknya? tentu anak begitu berharga bagi seorang ibu, ada harapan atau cita-cita yang Ibu gantungkan pada anak-anaknya. Begitupun pengorbanan kepada Allah swt, pengorbanan tidak akan lahir tanpa  keinginan untuk memperjuangkan Allah, keinginan untuk memperjuangkan tidak akan lahir tanpa kita menggantungkan cita-cita atau harapan kepada Allah swt, cita-cita tidak akan lahir kalau kita tidak yakin atau mengimani Allah swt dan keimanan tentunya tidak akan lahir kalau kita tidak memahami Allah swt. 

Dzulhijjah sebagai bulan terakhir dalam penanggalan islam Allah swt syariatkan untuk melakukan ibadah qurban. Jika qurban hanya dimaknai sebagai penyembelihan hewan qurban, maka berapa banyak umat islam yang belum sanggup melakukannya. Namun kisah Ibrahim mengajarkan kita bahwa berkorban adalah belajar "meninggal", belajar melepaskan nilai-nilai duniawi untuk membuktikan ketaatan kita kepada Allah swt dan setiap orang akan Allah swt berikan ujian pengorbanan yang berbeda-beda. Islam mengharapkan sepanjang tahun adalah bulan pengorbanan, namun puncak pengorbanan seorang hamba kepada Allah swt harusnya terjadi di bulan ini, bulan terakhir dalam penanggalan islam. Dengan kembali mengingat perjalanan qurban Nabi Ibrahim di bulan ini, diharapkan pengorbanan setiap hamba akan terus meningkat di setiap tahunnya.

Semoga kita menjadi si cantik- si cantik yang dengan penuh ketaatan, ikhlas dan sabar dalam menerima ketetapan Allah swt. Si cantik-si cantik yang tergugurkan kecintaan kepada dunianya, tergugurkan pengharapan kepada manusianya dan tergugurkan kesombongan akan dirinya.Semoga Allah swt menggantikan dengan Ridho Nya, insyaAllah menghantarkan kehidupan yang bernilai ibadah di hadapan Allah swt.


26 September 2014

Tetiba Rindu

Media ramai dengan berita disahkanya RUU Pilkada oleh DPR dimana pemilihan kepala daerah kembali menjadi otoritas DPRD, seperti biasa heboh ala pemberitaan media. Berbuntut dengan isu-isu penghianatan terhadap rakyat hohoho, pihak-pihak yang ambil muka,  haus kekuasaan dan entah apalagi itu. Hanya menyimak sepintas karena jujur saya sangat tidak tertarik sekali dengan pemberitaan politik akhir-akhir ini, tapi mau gimana lagi hawa panasnya nyebar kemana-kemana, bikin geraaaah.

Kapasitas sebagai rakyat awam dan tentu saja suaranya terlalu kecil untuk bisa terdengar, saya ingin sekali berpendapat, menyampaikan apa yang terlintas: "Saya rindu kita semua punya kepentingan yang SAMA".

Apa sih yang bapak/ibu cari? Benarkah duduknya bapak/ibu di "kursi panas" sana untuk memperjuangkan kami? rakyat yang keinginannya sebenarnya sangat sederhana mungkin, hidup sejahtera, damai, selamat lahir & bathin, itu saja.

Mudah-mudahan bapak/ibu tidak sedang memperjuangkan kepentingan masing-masing (karena kesan itu yang saya tangkap) entah itu kepentingan pribadi, partai, golongan atau kepentingan-kepentingan yang lain. Mudah-mudahan bapak/ibu benar-benar sedang mendengarkan keinginan rakyat. Kalau memang belum begitu, mau sampai kapan kita terombang ambing? sampai kapan begitu banyak kepentingan yang mesti diperjuangkan di negeri ini?

Jujur saya tetiba rindu kita punya kepentingan yang SAMA, rindu diajarkan memperjuangkan sebuah kepentingan yang SAMA, rindu bersama-sama meraih apa yang menjadi tujuan kita BERSAMA. Rindu sangaaaaat. Kalaupun tidak terdengar, semoga rindu ini menjadi doa.

21 September 2014

Relung Hikmah

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)" (Q.S. 2:269)

Karunia yang banyak dari Allah kepada manusia adalah Al hikmah, sebuah sertifikat ahli dalam memahami apa yang menjadi kehendak dan keinginan Sang Pencipta kepada dirinya. Sertifikat yang tidak dapat diraih jika manusia tidak menggunakan kekuatan terhebat dalam dirinya, yaitu AKAL. Dan hanya dengan berpikir, akal dapat meraih prestasi tertingginya, yaitu hikmah. Sebuah pelajaran yang Allah anugerahkan yang akan menghantarkan manusia sukses menyusun puzzle kehidupan, selamat dunia & akherat. 

"Maka apakah kamu tidak memiki
rkan?" (Q.S 37:155)

Buka mata, buka hati, buka pintu menuju relung hikmah dan mari belajar tentang hidup & kehidupan
Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang berpikir.

21092014
Sebuah Hikmah