Hati dan pikiran mulai tergelitik oleh suguhan media
akhir-akhir ini. Istilah prostitusi, LGBT, pelecehan seksual sudah tidak asing
lagi di telinga. Karena terbiasa mendengarnya, obrolan seputar permasalahan
tersebut bukan lagi sesuatu yang “mengkhawatirkan” bahkan seolah-olah menjadi
perilaku yang wajar dilakukan. Pelan-pelan budaya seks bebas masuk dalam
kehidupan masyarakat, tanpa kita sadari.
Saya tercengang dengan data yang diungkap oleh menteri
sosial pada salah satu stasiun televisi. Beliau mengatakan bahwa di Indonesia
terdapat kurang lebih ada 168 lokalisasi PSK dan saat ini tersisa 100
lokalisasi yang belum ditutup. Pikiran saya melayang mencoba menghitung berapa
pekerja seks yang terlibat di lokalisasi tersebut, berapa orang “pengguna” di
setiap harinya, kalangan mana saja yang bolak balik ke lokalisasi tersebut,
berapa perputaran uang, miras, narkoba yang terjadi dalam sehari, berapa banyak
anak-anak di bawah umur yang terlibat. Saya lemas, tidak tega melihat kenyataan.
Lebih pahit lagi adalah apakah program penutupan lokalisasi bisa menyelesaikan
masalah prostitusi? Sedangkan kita dengar prostitusi online juga ramai, tidak hanya di kalangan rakyat biasa, bahkan
selebriti dan pejabat pun terlibat. Pasar online
tentu lebih terbuka dan bebas dibanding lokalisasi. Kenyataan ini semakin pahit.
Di saat yang sama propaganda mengenai LGBT (lesbian, gay,
biseksual, transgender) mulai marak. Cerita lama, namun akhir-akhir ini begitu
genjar diperbincangkan. Saya sangat setuju sekali dengan KPAI (Komisi
Perlindungan Anak Indonesia) yang dengan tegas menolak adanya penyebarluasan
propaganda LGBT melalui media sosial. Ketergantungan kita pada medsos membuat
propaganda melalui medsos menjadi cara yang paling halus dan mudah untuk
mempengaruhi opini kita terkait LGBT, bahkan “dakwah” jenis ini dapat merambah
kalangan anak-anak dan remaja. Sudah cek emoji whatsapp? Aplikasi yang kita gunakan sehari-hari pun menggiring
untuk terbiasa dengan isu ini.
Satu lagi fenomena yang hits diperbincangkan, pelecehan
seksual yang dilakukan oleh selebriti. Hal yang paling menakutkan dari pemberitaan
seputar kasus selebriti ini adalah kemana arah media mau menggiring opini masyarakat.
Jika kita amati media khususnya infotainment
lebih banyak menyajikan pendapat para sahabat selebriti yang terlibat kasus
pelecehan seksual ini. Mereka beranggapan bahwa selebriti yang menjadi
tersangka pelecehan seksual tersebut sedang mengalami kemalangan atau musibah
dengan terjadinya kasus ini, sebagai seorang public figure ia hanya kurang berhati-hati dalam bertindak. Sangat
jauh dari kecaman, terkesan sebagai suatu kekhilafan yang bisa dimaafkan. Media
berulang-ulang menayangkan berita yang berisi statement-statement yang terkesan memaklumi perilaku tersebut dan
ditonton oleh ribuan masyarakat dari berbagai kalangan. Kira-kira apa reaksi
masyarakat? Awalnya kontroversi, ada yang memaklumi, ada yang mengecam,
lama-lama apatis mungkin lelah berdebat dan pelan-pelan perilaku yang tadinya
tabu menjadi perilaku yang wajar dilakukan.
Inilah globalisasi,
globalization yang asal katanya globe
yang berarti bola dunia atau global yang berarti mendunia. Menurut Lodge,
globalisasi merupakan suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia untuk bisa
saling menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan dalam semua
aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik, teknologi maupun
lingkungan. Ibarat air yang mengalir, globalisasi bergerak dari tempat yang
tinggi menuju tempat yang rendah, dari pihak yang kuat menuju pihak yang lemah.
Perubahan dalam masyarakat akan terjadi mengikuti pihak mana yang paling
berpengaruh dan semua akan saling memiliki keterhubungan di bawah satu
pengaruh. Jika pihak yang berpengaruh/kuat memiliki moralitas dan spiritualitas
yang baik maka akan membawa rahmat bagi siapa pun, namun sebaliknya jika pihak
yang berpengaruh/kuat itu memiliki moralitas dan spiritualitas yang buruk maka
akan membawa bencana bagi siapa pun, terutama bagi pihak yang lemah.
Sejarah mencatat bahwa Islam pernah memimpin peradaban dunia
pada abad pertengahan (sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15). Sebuah fenomena
globalisasi dengan Islam sebagai pemegang kendalinya. Islam melakukan perubahan
pada berbagai aspek ke seluruh dunia sesuai dengan misinya untuk menyebarkan
kasih sayang Allah SWT bagi seluruh makhlukNya. Dan karena misi itu pula Allah
SWT mengutus Rasul sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. Apa yang
membedakannya dengan globalisasi jaman sekarang? Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc pernah menyatakan bahwa ”hakekat globalisasi adalah neo kapitalisme dan neo
kolonialisme”. Arus globalisasi digunakan oleh bangsa yang kuat sebagai alat untuk menjajah bangsa lain demi mendapatkan keuntungan yang hanya
memuaskan nafsu dunia belaka. Arus globaliasi inilah yang sedang kita hadapi,
penjajahan model kekinian.
Sadarkah kita ada kekuatan super power yang sedang memimpin ekonomi global saat ini. Tidak
hanya melakukan penguasaan di bidang ekonomi dengan pasar bebasnya, namun juga melakukan
ekspor nilai-nilai yang sayangnya bertentangan dengan nilai-nilai ketimuran
yang dominan diwarnai oleh nilai-nilai Islam, salah satu contohnya seks bebas.
Media sosial menjadi sarana utama yang ampuh untuk menyebarkan nilai-nilai yang
mereka anggap lebih tinggi dibanding nilai-nilai lain di dunia ini. Dunia “dipaksa”
takluk pada kebudayaan yang dimiliki oleh pihak super power. Tanpa kita sadari, sebagai muslim kita pelan-pelan
dijauhkan dari nilai-nilai keislaman dan diperkenalkan dengan nilai-nilai yang
kalau kita renungkan bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Ya inilah
globalisasi, bentuk penjajahan yang melenakan.
Merdeka tapi terjajah itulah ungkapan yang tepat untuk
menggambarkan kondisi bangsa kita saat ini, khususnya umat Islam di Indonesia.
Kemana umat Islam di Indonesia yang katanya mayoritas, mungkinkah sedang
terlena mengikuti arus globalisasi yang begitu kuat? Mau sampai kapan kita
membiarkan negara ini terombang-ambing? Perlu kita renungkan bahwa tuntutan
Islam tidak hanya soal peribadatan semata, tapi bagaimana kita bisa membangun
tatanan masyarakat, bangsa dan negara sesuai dan sejalan dengan nilai-nilai islam. Tidakkah
ada kerinduan dalam diri kita untuk hidup terbebas dari penjajahan manusia?
Bangsa Indonesia pernah terbebas dari
belenggu penjajah 70 tahun yang lalu. Sebuah anugerah yang wajib kita syukuri, sebuah
karunia dari Allah SWT. Namun, sudahkan kita benar-benar merdeka? Merdeka pikiran
dan jiwa kita dari belenggu-belenggu bangsa lain dan bebas mengurus bangsa kita
sendiri. Jika kita masih terbelenggu, maka saatnya kita kembali membebaskan
diri kita dari penjajahan. Mari kita lihat pengalaman umat Islam di Indonesia
dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia 70 tahun yang lalu. Umat islam di
negaranya sendiri, berusaha keras menemukan metode untuk bisa keluar dari permasalahan-permasalahan
yang dihadapi negaranya. Umat Islam di Indonesia adalah umat Islam pertama di dunia yang
membangun gerakan politik yang modern pada tahun 1905 yaitu Serikat Islam. Umat Islam di Indonesia juga pernah mengalami pertarungan ideologi yang tidak pernah
dialami oleh negara lain, yaitu pertarungan melawan komunisme. Umat Islam di Indonesia pernah berjuang sampai titik darah penghabisan sehingga Indonesia
bebas dari kolonialisme dan akhirnya memproklamasikan berdirinya pemerintahan
sendiri pada tahun 1945.
Saat ini, kita umat Islam di negara kita sedang menghadapi
permasalahan-permasalahan di jamannya, jaman kekinian. Kita juga sedang
menghadapi sebuah bentuk penjajahan model kekinian yang membutuhkan
solusi dengan model kekinian. Tentunya kita tidak ingin hanya sekedar menjadi penonton. Mampu kah kita mengulang kembali sejarah pembebasan seperti yang
pernah dilakukan oleh para pejuang-pejuang kita terdahulu?
“If you want to make
your dreams come true, the first thing you have to do is WAKE UP”