Sebut saja namanya Si Cantik. Si cantik adalah fresh graduate dari sebuah perguruan tinggi di Bandung. Menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) sudah lebih dari enam bulan. Sudah ketebak kan sekarang kesibukannya apa aja hehe, ikut jobfair dimana-mana, melamar kemana-mana, sering ke luar kota untuk tes atau interview dan paling anti kalau di undang ke mantan kampusnya, coba tebak kenapa ;)
Sudah beberapa ikut tes kerja tapi belum ada yang keterima. Suatu saat Si Cantik lolos tahap 2 terakhir sebuah rangkaian tes masuk kerja di sebuah bank, tinggal 1 tahap lagi Si Cantik akan melepas status pengacaranya. Tes tahap akhir sudah dilalui, hari demi hari, minggu demi minggu ditunggu, panggilan tak kunjung datang. sampai pada suatu waktu si cantik mendengar kabar kalau beberapa teman seperjuangan yang mengikuti tes tersebut satu per satu mendapat panggilan. Harap harap cemas dan sampailah Si cantik pada kesimpulan bahwa dia tidak lolos karena ditunggu beberapa hari panggilan tetap tak kunjung datang.
Kira-kira apa yang Si Cantik rasakan? Ibarat anak kecil diperlihatkan mainan, ingin memiliki, terus meminta minta tapi ga pernah dikasih, apalagi yang bisa dilakukan si anak, hanya tangis yang pecah. Tapi Si cantik bukan anak kecil, dia menangis bukan untuk menarik perhatian atau sekedar mengeluarkan amarah. "Kenapa saya begini? sampai kapan saya begini?, saya lelah" itulah kira-kira ungkapan yang keluar dari Si Cantik. Sedih karena merasa belum bisa membahagiakan orang tua, sedih karena selalu merepotkan orang tua, merasa diri harapan satu-satunya keluarga, merasa hanya diri yang bisa membuat orang tua bahagia, ya dengan mendapatkan pekerjaan yang pantas.
Buat saya kisah ini menarik, karena belum lama ini saya juga merasakan kegagalan yang persis sama. Hampir 2 tahun pernikahan tapi belum ada tanda-tanda mendapatkan momongan. Setiap bulan saya selalu menunggu-nunggu "hamil ga ya", harap-harap cemas kalau terlambat "dapet". Padahal baru 2 tahun ya, banyak sekali pasangan yang bertahun-tahun belum dikaruniai momongan (jadi malu sendiri kalau ingat itu). Sampai pada satu titik saya mempertanyakan persis seperti apa yang ditanyakan Si Cantik, "kenapa ya", "sampai kapan". Saat itu saya merasa kenapa orang lain dengan mudahnya Allah swt kasih sedangkan saya ga, mupeng kalau liat ibu-ibu hamil dan gendong baby, merasa ga enak sama mertua karena belum ngasih cucu, pemikiran sederhana abis nikah harusnya punya anak dong. Sebuah surat di dalam Al-quran rekomendasi dari suami akhirnya membuka mata saya
Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan?
Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.
Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?
Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan, (Q.S 56: 57-60)
Kamu yang menciptakan, atau Kamikah yang menciptakan? nutfah yang kamu pancarkan, kamu yang menghidupkan atau Kamikah yang menghidupkan, pohon yang kamu tanam, kamu yang menumbuhkan atau Kamikah yang menumbuhkan? sesungguhnya Allah lah yang menentukan kematian dan Dia tidak bisa dikalahkan. Kenapa manusia kecewa? karena seringkali manusia tidak meyakini bahwa ada campur tangan Allah dalam setiap langkah hidupnya, karena manusia seringkali menjadikan perkataan, harapan atau pencapaian orang lain sebagai standar keberhasilan dirinya, karena manusia seringkali menilai dengan persepsinya sendiri.
Saya teringat kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah swt untuk menyembelih Ismail anaknya. Bapak mana yang tega anak yang sudah ditunggu-tunggu kedatangan, lalu setelah lahir harus ditinggalkan karena tugas dakwah, bertemu kembali setelah remaja dengan rindu yang luar biasa, anak yang begitu beliau harapkan dan beliau cintai, lalu diperintahkan untuk disembelih. bagi manusia biasa, yang punya akal dan perasaan itu bukan perintah yang mudah untuk dikerjakan. Ibrahim sama sekali tidak mengetahui bahwa nantinya Ismail akan digantikan dengan hewan, yang beliau tahu adalah ini adalah perintah Allah swt yang harus dikerjakan. Yang paling menarik adalah Nabi Ibrahim tidak mempertanyakan, "kenapa begini?", "saya lelah dengan semua ini", atau "sampai kapan saya diuji begini?"
Nabi Ibrahim mengajarkan beberapa hal, pertama ketenangan beliau saat ujian dari Allah swt, yang saya yakin ketenangan itu muncul dari besarnya kepercayaan beliau kepada Allah swt. keyakinan bahwa Allah swt yang berhak untuk didengar dan diikuti perkataannya, bukan orang lain, bukan juga persepsi diri sendiri. Kedua, Ibrahim mengajarkan kita untuk "meninggal". Konon katanya sakit saat sakaratul maut bergantung pada seberapa banyak dunia mengikat diri kita. Ibrahim mengajarkan kita untuk meninggal, latihan melepaskan satu persatu dunia yang melilit diri dan jiwa kita. ketiga, perintah qurban adalah perintah yang tidak logis, hanya orang-orang yang ikhlas dan sabarlah yang bisa menjalankan qurban/berqurban. Tidak ada ikhlas tanpa ketaatan dan tidak ada sabar tanpa keikhlasan.

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Q.S 108:1-3)
Ujian saya dan Si Cantik sangat tidak sebanding jika dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Namun, jika kita mencoba menghayati, maka ujian-ujian kehidupan yang kita alami adalah ketetapan Allah swt untuk membersihkan nilai-nilai keduniawian dalam diri
kita, seperti halnya yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahin. Apakah benar Allah swt saja yang bertahta di dalam jiwa kita. Anak, keluarga, pekerjaan, harta, martabat dihadapan manusia adalah "ismail-ismail" yang Allah swt hadirkan untuk menguji keimanan kita. Siapkah kita mengorbankan "ismail-ismail" yang sangat kita cintai untuk membuktikan ketaatan kita kepada Allah swt?
Kesiapan berqurban tentunya tidak datang begitu saja, tentunya lahir dari proses sebelumnya. Seorang Ibrahim tidak serta merta siap mengorbankan Ismailnya tanpa sebelumnya dilatih oleh Allah swt dengan ujian-ujian sehingga jiwa-jiwa pengorbanan terus terpupuk dan tumbuh di dalam dirinya. Kenapa seorang Ibu mau berkorban untuk anaknya? tentu anak begitu berharga bagi seorang ibu, ada harapan atau cita-cita yang Ibu gantungkan pada anak-anaknya. Begitupun pengorbanan kepada Allah swt, pengorbanan tidak akan lahir tanpa keinginan untuk memperjuangkan Allah, keinginan untuk memperjuangkan tidak akan lahir tanpa kita menggantungkan cita-cita atau harapan kepada Allah swt, cita-cita tidak akan lahir kalau kita tidak yakin atau mengimani Allah swt dan keimanan tentunya tidak akan lahir kalau kita tidak memahami Allah swt.
Dzulhijjah sebagai bulan terakhir dalam penanggalan islam Allah swt syariatkan untuk melakukan ibadah qurban. Jika qurban hanya dimaknai sebagai penyembelihan hewan qurban, maka berapa banyak umat islam yang belum sanggup melakukannya. Namun kisah Ibrahim mengajarkan kita bahwa berkorban adalah belajar "meninggal", belajar melepaskan nilai-nilai duniawi untuk membuktikan ketaatan kita kepada Allah swt dan setiap orang akan Allah swt berikan ujian pengorbanan yang berbeda-beda. Islam mengharapkan sepanjang tahun adalah bulan pengorbanan, namun puncak pengorbanan seorang hamba kepada Allah swt harusnya terjadi di bulan ini, bulan terakhir dalam penanggalan islam. Dengan kembali mengingat perjalanan qurban Nabi Ibrahim di bulan ini, diharapkan pengorbanan setiap hamba akan terus meningkat di setiap tahunnya.Semoga kita menjadi si cantik- si cantik yang dengan penuh ketaatan, ikhlas dan sabar dalam menerima ketetapan Allah swt. Si cantik-si cantik yang tergugurkan kecintaan kepada dunianya, tergugurkan pengharapan kepada manusianya dan tergugurkan kesombongan akan dirinya.Semoga Allah swt menggantikan dengan Ridho Nya, insyaAllah menghantarkan kehidupan yang bernilai ibadah di hadapan Allah swt.