Kalau ada yang bertanya, siapa tokoh yang paling saya
kagumi? Yap, bapak duta pertama Islam inilah jawabannya, salah satu tokoh yang
paling saya kagumi dan saluti se antero dunia ini. Berapa kali pun
diulang-ulang membaca atau mendengar kisah beliau, selalu saja merinding alias
menyentuh. Saya yakin tidak semua kita mengenalnya, sebab seingat saya kisah
beliau belum pernah khusus dikupas di stasion tv mana pun, pun tidak diangkat
menjadi sebuah sinetron ratusan episode, pun juga tidak pernah jadi headline ato
cover majalah terkenal hehe...Tapi bagi saya dia salah satu tokoh yang sangat
berpengaruh dalam mengubah peradaban dunia, khususnya dunia Islam. Yuk kita
intip siapakah beliau?
Mush’ab bin Umair adalah salah satu sahabat Nabi Muhammas
SAW. Sebelum menerima Islam, ia adalah seorang remaja yang terkemuka di kaum
Quraisy Mekah. Tampan, ganteng, pintar, penuh dengan semangat, digandrungi para
gadis-gadis. Beliau termasuk remaja yang beruntung saat itu, hidup mewah dan dimanjakan
oleh orang tua dengan segala fasilitasnya. Kalau sekarang seperti Raffi Ahmad,
Afgan, Al, El, Dul ato anak-anak menteri kali ya hehe...(ngayal).
Suatu hari beliau mendengar berita yang sudah tersebar luas
di kalangan warga Mekah, berita tentang Muhammad al-amin. Berita yang
mengatakan bahwa Muhammad al-amin telah diutus oleh Allah SWT sebagai pembawa
berita yang mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.
Walaupun beliau remaja yang manja, namun karena kepintarannya dalam menemukan
solusi permasalahan, beliau diperhitungkan oleh teman-temannya untuk menghadiri
pertemuan-pertemuan atau majelis sehingga sampailah berita Muhammad al-amin
yang sedang banyak diperbincangkan itu ke telinganya. Diantara berita yang
beliau dengar adalah bahwa Rasulullah Muhammad dan pengikutnya biasanya mengadakan
pertemuan di suatu tempat yang terhindar dari gangguan dan ancaman Quraisy,
yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Tidak menunggu waktu lama, remaja dengan keingintahuan yang
besar itu akhirnya terdorong untuk pergi ke rumah Arqom bersama pengikut
Rasulullah yang lainnya. Di sana Rasulullah membacakan ayat-ayat Allah SWT dan
mengajarkan bagaimana beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar. Ayat-ayat yang
mengalir dari bibir Rasulullah meresap ke hati para pengikutnya, termasuk ke
dalam hati seorang remaja manja yang haus akan ilmu. Saat itu, Mush’ab
terpesona oleh untaian kalimat yang disampaikan oleh Rasulullah. Dengan
kepekaan hatinya dan keluasan ilmu dan hikmah yang beliau miliki, akhirnya
beliau menerima Iman dan Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad, sehingga
sejak saat itu beliau telah menganut Islam.
Ketika Mush’ab menganut Islam, tidak ada satu kekuatanpun di
dunia ini yang ia khawatirkan, kecuali kekuatan Ibunya sendiri. Bahkan kekuatan
pembesar-pembesar dan penduduk Mekah saat itu yang begitu membenci dan ingin
menghancurkan Rasulullah pun ia anggap enteng. Ia berpikir keras untuk menyembunyikan
keislamannya karena tau betapa akan murkanya Sang Ibu jika mengetahui tentang
keislamannya. Seperti penyusup, Mush’ab bolak balik ke rumah Arqam dengan
sembunyi-sembunyi, sampai suatu waktu rahasia yang apik disembunyikan tercium
oleh masyarakat Quraisy dan sampai juga ke telinga Sang Ibu.
Benar saja, mengetahui keislaman anaknya, sang Ibu pun murka. Namun,
dengan hati yang yakin dan pasti disampaikanlah ayat-ayat Al quran yang
dibawa oleh Rasulullah oleh Mush'ab kepada Ibunya. Sampai-sampai tangan
sang Ibu yang tadinya ingin membungkam mulut anaknya itu terkulai
melihat wajah anaknya yang bercahaya dan semakin berwibawa. Tapi apa
boleh dikata, demi membela berhala-halanya, Sang Ibu tak dapat menahan
diri dari kemurkaannya. Ia pun membawa Mush'ab ke suatu tempat yang
terpencil dan mengurung beliau di sana.
Cukup lama Mush'ab dikurung oleh Ibunya, sampai pada suatu waktu beberapa orang muslim hijrah ke Habsyi. Mendengar kabar tersebut Mush'ab mencari cara agar bisa keluar dari kurungan dan ikut dengan sahabat lainnya berhijrah ke Habsyi dan ia pun berhasil. Mush'ab akhirnya tinggal di Habsyi bersama sahabat-sahabat kaum Muhajirin lainnya. Saat Mush'ab pulang lagi ke Mekah, siapa sangka masa itu adalah masa akhir pertemuan beliau dengan Ibunya. Ibunya berencana ingin mengurung beliau kembali, namun mush'ab menantang jika rencana itu dilakukan oleh Ibunya maka beliau menyatakan tekad akan membunuh suruhan-suruhan Ibunya tersebut. Begitu bulat tekad keduanya membela agamanya. Mush'ab dengan rasa kasihan telah menasehati Ibunya agar menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan menerima Muhammad sebagai utusan Allah, namun Ibunya dengan kegigihan luar biasa dengan kekafirannya bersumpah demi bintang bahwa Ia sekali-kali tidak akan memasuki agama Mush'ab. Akhirnya, melihat tekad yang kuat dari keduanya mereka memutuskan untuk berpisah dengan bercucuran air mata, kesedihan yang mendalam dirasakan Mush'ab saat harus meninggalkan Ibunya.
Semenjak mereka berpisah, sang Ibu menghentikan segala fasilitas kemewahan yang dulu Ia berikan pada anaknya. Ibunya bahkan tidak sudi nasinya di makan oleh orang yang telah mengingkari berhala walaupun itu adalah anak kandungnya sendiri. Pemuda ganteng itu kini memilih hidup miskin dengan pakaian usang dengan kadang makan dan kadang lapar.
Pernah pada suatu waktu Mush'ab tampil dihadapan para sahabat lainnya yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah. Para sahabat tak kuasa memandang Mush'ab dengan pakaian jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum hilang dari ingatan mereka sebelum Mush'ab masuk islam beliau adalah seorang pemuda bagaikan bunga di taman, berwarna warni dan menebarkan bau yang wangi. Para sahabat hanya menundukan kepala dan ada juga yang menatap sambil berlinangan air mata. Namun, Rasulullah memandang Mush'ab dengan rasa cinta dan kasih sayang, rasa syukur terlihat dari senyum Rasulullah yang mulia seraya bersabda:
"Dahulu saya lihat Mush'ab ini tidak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasulnya".
Subhanallah, begitulah Mush'ab karena tempaan Rasullah bisa menemukan apa yang beliau cari sebenarnya. Walaupun hidup yang beliau jalani berputar 180 derajat dari kehidupan sebelumnya, tetapi beliau puas karena beliau menemukan kehidupan yang layak beliau persembahkan untuk Penciptanya. Hidup bukan tentang popularitas ataupun kemewahan, Mush'ab mengajarkan hidup adalah tentang pengorbanan menemukan Cahaya Ilahi, Cahaya yang membuat dirinya menjadi manusia yang lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.
Cukup lama Mush'ab dikurung oleh Ibunya, sampai pada suatu waktu beberapa orang muslim hijrah ke Habsyi. Mendengar kabar tersebut Mush'ab mencari cara agar bisa keluar dari kurungan dan ikut dengan sahabat lainnya berhijrah ke Habsyi dan ia pun berhasil. Mush'ab akhirnya tinggal di Habsyi bersama sahabat-sahabat kaum Muhajirin lainnya. Saat Mush'ab pulang lagi ke Mekah, siapa sangka masa itu adalah masa akhir pertemuan beliau dengan Ibunya. Ibunya berencana ingin mengurung beliau kembali, namun mush'ab menantang jika rencana itu dilakukan oleh Ibunya maka beliau menyatakan tekad akan membunuh suruhan-suruhan Ibunya tersebut. Begitu bulat tekad keduanya membela agamanya. Mush'ab dengan rasa kasihan telah menasehati Ibunya agar menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan menerima Muhammad sebagai utusan Allah, namun Ibunya dengan kegigihan luar biasa dengan kekafirannya bersumpah demi bintang bahwa Ia sekali-kali tidak akan memasuki agama Mush'ab. Akhirnya, melihat tekad yang kuat dari keduanya mereka memutuskan untuk berpisah dengan bercucuran air mata, kesedihan yang mendalam dirasakan Mush'ab saat harus meninggalkan Ibunya.
Semenjak mereka berpisah, sang Ibu menghentikan segala fasilitas kemewahan yang dulu Ia berikan pada anaknya. Ibunya bahkan tidak sudi nasinya di makan oleh orang yang telah mengingkari berhala walaupun itu adalah anak kandungnya sendiri. Pemuda ganteng itu kini memilih hidup miskin dengan pakaian usang dengan kadang makan dan kadang lapar.
Pernah pada suatu waktu Mush'ab tampil dihadapan para sahabat lainnya yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah. Para sahabat tak kuasa memandang Mush'ab dengan pakaian jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum hilang dari ingatan mereka sebelum Mush'ab masuk islam beliau adalah seorang pemuda bagaikan bunga di taman, berwarna warni dan menebarkan bau yang wangi. Para sahabat hanya menundukan kepala dan ada juga yang menatap sambil berlinangan air mata. Namun, Rasulullah memandang Mush'ab dengan rasa cinta dan kasih sayang, rasa syukur terlihat dari senyum Rasulullah yang mulia seraya bersabda:
"Dahulu saya lihat Mush'ab ini tidak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasulnya".
Subhanallah, begitulah Mush'ab karena tempaan Rasullah bisa menemukan apa yang beliau cari sebenarnya. Walaupun hidup yang beliau jalani berputar 180 derajat dari kehidupan sebelumnya, tetapi beliau puas karena beliau menemukan kehidupan yang layak beliau persembahkan untuk Penciptanya. Hidup bukan tentang popularitas ataupun kemewahan, Mush'ab mengajarkan hidup adalah tentang pengorbanan menemukan Cahaya Ilahi, Cahaya yang membuat dirinya menjadi manusia yang lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.