Apa yang kamu rasakan pada saat mendapatkan bonus tak terduga dari bos? Apa juga yang kamu rasakan saat kamu tidak ada persiapan apa-apa untuk menghadapi ujian semester, tapi ternyata hasil nilai mu memuaskan? Lalu bagaimana dengan di saat kamu akhirnya dilamar oleh laki-laki yang selama ini kamu harapkan akan menjadi suami, apa yang kamu rasakan? Senang, bangga, lega atau syukur? Atau kamu akan mengatakan, "Ah itu kan sama saja mau senang, bangga, lega atau bersyukur, pokoknya bahagia, terharu". Eits...tunggu dulu, ternyata emosi yang beragam yang kita rasakan pada saat mendapatkan kenikmatan itu berbeda loh. Terdapat perbedaan antara senang, bangga, lega dan syukur. Yuk kita cek.Pekrun (2006), seorang profesor psikologi pendidikan dari Jerman, mengatakan bahwa terdapat dua jenis emosi terkait keberhasilan pencapaian prestasi seseorang. Pertama, emosi outcome dependen-attribution independent, merupakan emosi yang dibedakan berdasarkan tercapai atau tidak tercapainya tujuan yang sudah diperkirakan sebelumnya. Misalnya, seseorang targetnya adalah lulus tes kerja dan ia sudah memperkirakan bahwa ia akan lulus tes tersebut, ternyata yang terjadi adalah ia tidak lulus, maka emosi kecewa lah yang akan muncul. Namun sebaliknya, jika yang terjadi adalah ia lulus, maka emosi senang atau puaslah yang akan muncul. Ada kalanya seseorang memperkirakan bahwa ia akan gagal mencapai tujuannya, misalnya mahasiswa yang memiliki target wisuda di bulan Februari, tapi karena progres yang lambat ia merasa akan gagal. Jika ia ternyata tidak bisa wisuda Februari, maka emosi sedih akan muncul, tapi jika wisuda Februari bisa terjadi, maka emosi lega lah yang akan muncul.
Kedua, emosi attribution dependent, merupakan emosi yang dibedakan berdasarkan penyebab dari tercapainya atau tidak tercapainya tujuan yaitu faktor eksternal dan internal. Misalnya, tidak lulus tes kerja dianggap disebabkan oleh kesalahan administrasi yang dilakukan oleh penyelenggara tes, maka emosi marah akan muncul. Namun jika tidak lulus tes dianggap disebabkan oleh usaha dari diri yang kurang maksimal, maka rasa bersalah akan muncul. Jika tujuan tercapai, misalnya mahasiswa berhasil lulus di bulan Februari dan ia menganggap kelulusannya itu disebabkan oleh usaha maksimal yang ia lakukan maka emosi bangga akan muncul. Namun, jika kelulusan itu dianggap disebabkan oleh bantuan dari dosen pembimbing maka emosi syukur akan muncul.
Ada banyak emosi yang muncul dengan berbagai situasi yang berbeda-beda. Kali ini saya akan banyak membicarakan mengenai emosi yang kita alami pada saat kita mendapatkan keberhasilan atau kenikmatan. Ada emosi senang atau puas, bangga, lega dan syukur. Perasaan bangga muncul saat kenikmatan kita anggap bisa kita didapatkan semata-mata karena kemampuan dan usaha yang kita miliki, perasaan lega muncul saat kenikmatan kita anggap tidak seharusnya kita peroleh tapi ternyata kita mendapatkannya, perasaan senang atau puas muncul di saat kenikmatan yang kita peroleh kita anggap memang semestinya kita dapatkan dan syukur merupakan perasaan yang kita alami di saat kita mengganggap bahwa ada faktor di luar diri kita yang menyebabkan kenikmatan itu kita dapatkan.
Ketertarikan saya untuk membicarakan emosi-emosi ini berawal dari pemahaman baru yang saya dapatkan tentang emosi syukur. Pemahaman baru tersebut akhirnya melengkapi apa yang saya pahami mengenai syukur yang selama ini diajarkan oleh Islam. Ooo, ternyata oh ternyata ada banyak ayat-ayat di dalam Al-quran yang membicarakan syukur terkait nikmat yang manusia peroleh dan mengajarkan bagaimana seharusnya kita menyikapi nikmat-nikmat tersebut.
Maka terangkanlah kepadaku
tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah
yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak
bersyukur?(Q.S 56:68-70)
Allah-lah yang menundukkan
lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan
supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.(Q.S 45:12)
Dan Kami jadikan padanya
kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya,
dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak
bersyukur? (Q.S 36:34-35)
....Demikianlah Kami telah menundukkan
untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. (Q.S
22:36)
Ayat-ayat di atas memiliki pola yang sama, dimana Allah SWT. terlebih dahulu menjelaskan mengenai nikmat apa saja yang Dia berikan kepada manusia, diantaranya ada nikmat air, nikmat kesempatan mencari rizki, nikmat ditundukkannya makhluk-makhluk di bumi ini untuk kemudahan manusia. Di akhir ayat-ayat tersebut terdapat pertanyaan yang mengarahkan kita bahwa sudah selayaknya manusia bersyukur dengan segala kenikmatan yang sudah diberikan. Sehingga yang dimaksud dengan bersyukur di sini adalah mengingat kembali bahwa nikmat-nikmat yang manusia rasakan itu tidak datang begitu saja, tapi ada yang memberikannya kepada manusia, yaitu "Saya", kata Allah SWT.
Kemudian Dia menyempurnakan dan
meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (Q.S 32:9)
Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Q.S 40:61)
Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu
sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur (Q.S
23:78)
Beberapa ayat di atas juga memiliki pola yang sama, dimana Allah SWT, di awal ayat menjelaskan tentang nikmat yang sudah Dia berikan kepada manusia, diantaranya nikmat diberikannya bumi sebagai sumber penghidupan manusia, meniupkan roh sehingga manusia hidup, memberikan potensi-potensi, menciptakan siang terang benderang dan malam untuk beristirahat. Lalu di akhir ayat-ayatNya Allah SWT mengatakan bahwa sedikit sekali manusia itu yang bersyukur. Sedikit sekali manusia-manusia itu yang mengingat kembali bahwa nikmat-nikmat yang mereka peroleh itu tidak datang dengan sendirinya, tapi ada Allah SWT yang memberikan kepada manusia. Jika memang yang bersyukur itu amat sedikit, lalu kebanyakan manusia merasakan apa pada saat mendapatkan kenikmatan?
Apa mungkin manusia merasa bahwa kenikmatan yang mereka peroleh selama ini adalah kenikmatan yang memang mereka perkirakan sudah sepantasnya mereka dapatkan, sehingga ketika benar mereka mendapatkannya mereka hanya sekedar senang dan puas. Atau apa mungkin manusia masih ragu bahwa mereka akan mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT, sehingga ketika kenikmatan itu mereka dapatkan, hanya perasaan lega yang mereka rasakan. Atau apa mungkin manusia merasa bahwa nikmat yang selama ini mereka dapatkan itu adalah karena kemampuan, usaha dan jerih payah mereka untuk mendapatkannya, bukan karena pemberian, sehingga hanya bangga yang mereka rasakan.
Seringkali kita megucapkan "Alhamdulillah" ketika kita mendapatkan keberhasilan atau kenikmatan. Apa sebenarnya makna kalimat tersebut dan sudahkah kalimat tersebut mewakili rasa syukur kita kepada Allah SWT?. Jangan sampai itu hanya sekedar simbol kesyukuran, sedangkan di hati kita masih tersimpan rasa-rasa selain kesyukuran, masih tidak peduli dengan Allah SWT sebagai sumber keberhasilan kita, masih ada keraguan kepada Allah SWT atau masih tersimpan kebanggaan pada diri kita sendiri.
Rasulullah pun mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur. “Rasulullah berdiri (shalat) sampai bengkak kedua kakinya. Kepadanya ditanyakan: “Mengapa Anda membebani diri dengan hal yang demikian? Bukankah Allah swt. Telah mengampuni Anda dari segala dosa Anda, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?” Rasulullah saw. Bersabda : “Tidak patutkah saya menjadi hamba Allah yang bersyukur?”(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, juga oleh Basyar bin Mu’adz, dari Abu `Awanah,dari Ziyad bin `Alaqah, yang bersumber dari al Mughirah bin Syu’bah r.a.).
Syukur merupakan ilmu kehidupan, karena ternyata tidak ada kenikmatan yang kita peroleh dalam hidup ini yang lepas dari kehendak dan kekuatan Allah SWT, termasuk nikmat alam semesta dan hidup itu sendiri. Ilmu yang diterapkan setiap saat, kapan pun dan dimana pun kita berada. Tak hanya sekedar ucapan terima kasih seperti kita berterima kasih kepada teman karena sudah mengantar dengan kendaraannya, atau berterima kasih kepada dosen pembimbing karena sudah membantu penyelesaian tesis kita, syukur memiliki konsekuensi bahwa diri harus lebih dekat dan terikat dengan Allah SWT, Sang Pemberi Nikmat. Bukti kesyukuran kita terlihat dari semakin berserahnya diri kita kepada Allah SWT di saat kemudahan maupun kesulitan yang kita hadapai, tidak ada lagi penolong yang lain selain Dia, dan semakin meningkatnya amalan-amalan yang kita persembahkan untuk Allah SWT.
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku, (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Q.S 17:2-3)
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.(Q.S 34:13)
Lalu apa keutamaan syukur? Inilah keutamaan syukur dibandingkan emosi-emosi lain yang muncul saat kita memperoleh keberhasilan atau kenikmatan, dimana Allah SWT akan membalas rasa syukur tersebut dengan nikmat yang lebih banyak. Balasan Allah SWT terhadap rasa syukur yang kita berikan merupakan wujud sifat Mensyukuri yang Dia dimiliki. Allah itu Asy Syakur, Allah akan menerima semua rasa syukur dari manusia dengan membalasnya dengan kesyukuran, yaitu menambah kenikmatan dan menjauhkan manusia dari kesulitan.
Mengapa Allah akan menyiksamu,
jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri
lagi Maha Mengetahui.(Q.S 4:147)
Apa mungkin manusia merasa bahwa kenikmatan yang mereka peroleh selama ini adalah kenikmatan yang memang mereka perkirakan sudah sepantasnya mereka dapatkan, sehingga ketika benar mereka mendapatkannya mereka hanya sekedar senang dan puas. Atau apa mungkin manusia masih ragu bahwa mereka akan mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT, sehingga ketika kenikmatan itu mereka dapatkan, hanya perasaan lega yang mereka rasakan. Atau apa mungkin manusia merasa bahwa nikmat yang selama ini mereka dapatkan itu adalah karena kemampuan, usaha dan jerih payah mereka untuk mendapatkannya, bukan karena pemberian, sehingga hanya bangga yang mereka rasakan.
Seringkali kita megucapkan "Alhamdulillah" ketika kita mendapatkan keberhasilan atau kenikmatan. Apa sebenarnya makna kalimat tersebut dan sudahkah kalimat tersebut mewakili rasa syukur kita kepada Allah SWT?. Jangan sampai itu hanya sekedar simbol kesyukuran, sedangkan di hati kita masih tersimpan rasa-rasa selain kesyukuran, masih tidak peduli dengan Allah SWT sebagai sumber keberhasilan kita, masih ada keraguan kepada Allah SWT atau masih tersimpan kebanggaan pada diri kita sendiri.Rasulullah pun mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur. “Rasulullah berdiri (shalat) sampai bengkak kedua kakinya. Kepadanya ditanyakan: “Mengapa Anda membebani diri dengan hal yang demikian? Bukankah Allah swt. Telah mengampuni Anda dari segala dosa Anda, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?” Rasulullah saw. Bersabda : “Tidak patutkah saya menjadi hamba Allah yang bersyukur?”(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, juga oleh Basyar bin Mu’adz, dari Abu `Awanah,dari Ziyad bin `Alaqah, yang bersumber dari al Mughirah bin Syu’bah r.a.).
Syukur merupakan ilmu kehidupan, karena ternyata tidak ada kenikmatan yang kita peroleh dalam hidup ini yang lepas dari kehendak dan kekuatan Allah SWT, termasuk nikmat alam semesta dan hidup itu sendiri. Ilmu yang diterapkan setiap saat, kapan pun dan dimana pun kita berada. Tak hanya sekedar ucapan terima kasih seperti kita berterima kasih kepada teman karena sudah mengantar dengan kendaraannya, atau berterima kasih kepada dosen pembimbing karena sudah membantu penyelesaian tesis kita, syukur memiliki konsekuensi bahwa diri harus lebih dekat dan terikat dengan Allah SWT, Sang Pemberi Nikmat. Bukti kesyukuran kita terlihat dari semakin berserahnya diri kita kepada Allah SWT di saat kemudahan maupun kesulitan yang kita hadapai, tidak ada lagi penolong yang lain selain Dia, dan semakin meningkatnya amalan-amalan yang kita persembahkan untuk Allah SWT.
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku, (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Q.S 17:2-3)
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.(Q.S 34:13)
Lalu apa keutamaan syukur? Inilah keutamaan syukur dibandingkan emosi-emosi lain yang muncul saat kita memperoleh keberhasilan atau kenikmatan, dimana Allah SWT akan membalas rasa syukur tersebut dengan nikmat yang lebih banyak. Balasan Allah SWT terhadap rasa syukur yang kita berikan merupakan wujud sifat Mensyukuri yang Dia dimiliki. Allah itu Asy Syakur, Allah akan menerima semua rasa syukur dari manusia dengan membalasnya dengan kesyukuran, yaitu menambah kenikmatan dan menjauhkan manusia dari kesulitan.
Dan (ingatlah juga), tatkala
Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih".(Q.S 14:7)
Mengapa Allah akan menyiksamu,
jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri
lagi Maha Mengetahui.(Q.S 4:147)
Dan mereka berkata: "Segala
puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya
Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri.(Q.S 35:34)
Agar Allah menyempurnakan kepada
mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Q.S 35:30)
Akhirnya,
cukupkah kita merespon kenikmatan yang kita peroleh selama ini hanya dengan rasa
puas, rasa lega atau rasa bangga semata? Sedangkan kenikmatan itu
datangNya dari Allah SWT, jika Dia berkehendak maka dicabutNya
kenikmatan itu. Cukupkah kita menjalani hidup ini mengalir begitu saja? Sedangkan hidup ini merupakan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita dan sudah sepantasnya kita syukuri. Cukupkah kita hanya mengucapkan "alhamdulillah" di saat kita mendapatkan kenikmatan, lalu setelah itu kita lupa? Sedangkan hanya Allah SWT saja yang mampu menjauhkan kita dari kesulitan-kesulitan, mengapa kita tidak senantiasa bersyukur.
Ingat bahwa ketika kita bersyukur, maka Allah SWT akan menambah nikmatnya. Jika nikmat Allah SWT bertambah, tentunya harus semakin bertambah juga rasa syukur kita, dan semakin bertambah rasa syukur kita, maka nikmat yang Allah SWT berikan juga semakin berlipat lipat. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang selalu bersyukur.
Ingat bahwa ketika kita bersyukur, maka Allah SWT akan menambah nikmatnya. Jika nikmat Allah SWT bertambah, tentunya harus semakin bertambah juga rasa syukur kita, dan semakin bertambah rasa syukur kita, maka nikmat yang Allah SWT berikan juga semakin berlipat lipat. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang selalu bersyukur.
...."Ya Tuhanku, tunjukilah aku
untuk mensyukuri nikmat
Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku
dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku
dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada
Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".(Q.S 46:15)