24 Februari 2016

Merdeka tapi Terjajah, Sebuah Fenomena Kekinian

Hati dan pikiran mulai tergelitik oleh suguhan media akhir-akhir ini. Istilah prostitusi, LGBT, pelecehan seksual sudah tidak asing lagi di telinga. Karena terbiasa mendengarnya, obrolan seputar permasalahan tersebut bukan lagi sesuatu yang “mengkhawatirkan” bahkan seolah-olah menjadi perilaku yang wajar dilakukan. Pelan-pelan budaya seks bebas masuk dalam kehidupan masyarakat, tanpa kita sadari.

Saya tercengang dengan data yang diungkap oleh menteri sosial pada salah satu stasiun televisi. Beliau mengatakan bahwa di Indonesia terdapat kurang lebih ada 168 lokalisasi PSK dan saat ini tersisa 100 lokalisasi yang belum ditutup. Pikiran saya melayang mencoba menghitung berapa pekerja seks yang terlibat di lokalisasi tersebut, berapa orang “pengguna” di setiap harinya, kalangan mana saja yang bolak balik ke lokalisasi tersebut, berapa perputaran uang, miras, narkoba yang terjadi dalam sehari, berapa banyak anak-anak di bawah umur yang terlibat. Saya lemas, tidak tega melihat kenyataan. Lebih pahit lagi adalah apakah program penutupan lokalisasi bisa menyelesaikan masalah prostitusi? Sedangkan kita dengar prostitusi online juga ramai, tidak hanya di kalangan rakyat biasa, bahkan selebriti dan pejabat pun terlibat. Pasar online tentu lebih terbuka dan bebas dibanding lokalisasi. Kenyataan ini semakin pahit.

Di saat yang sama propaganda mengenai LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) mulai marak. Cerita lama, namun akhir-akhir ini begitu genjar diperbincangkan. Saya sangat setuju sekali dengan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) yang dengan tegas menolak adanya penyebarluasan propaganda LGBT melalui media sosial. Ketergantungan kita pada medsos membuat propaganda melalui medsos menjadi cara yang paling halus dan mudah untuk mempengaruhi opini kita terkait LGBT, bahkan “dakwah” jenis ini dapat merambah kalangan anak-anak dan remaja. Sudah cek emoji whatsapp? Aplikasi yang kita gunakan sehari-hari pun menggiring untuk terbiasa dengan isu ini.  

Satu lagi fenomena yang hits diperbincangkan, pelecehan seksual yang dilakukan oleh selebriti. Hal yang paling menakutkan dari pemberitaan seputar kasus selebriti ini adalah kemana arah media mau menggiring opini masyarakat. Jika kita amati media khususnya infotainment lebih banyak menyajikan pendapat para sahabat selebriti yang terlibat kasus pelecehan seksual ini. Mereka beranggapan bahwa selebriti yang menjadi tersangka pelecehan seksual tersebut sedang mengalami kemalangan atau musibah dengan terjadinya kasus ini, sebagai seorang public figure ia hanya kurang berhati-hati dalam bertindak. Sangat jauh dari kecaman, terkesan sebagai suatu kekhilafan yang bisa dimaafkan. Media berulang-ulang menayangkan berita yang berisi statement-statement yang terkesan memaklumi perilaku tersebut dan ditonton oleh ribuan masyarakat dari berbagai kalangan. Kira-kira apa reaksi masyarakat? Awalnya kontroversi, ada yang memaklumi, ada yang mengecam, lama-lama apatis mungkin lelah berdebat dan pelan-pelan perilaku yang tadinya tabu menjadi perilaku yang wajar dilakukan.

Inilah globalisasi, globalization yang asal katanya globe yang berarti bola dunia atau global yang berarti mendunia. Menurut Lodge, globalisasi merupakan suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia untuk bisa saling menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan dalam semua aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik, teknologi maupun lingkungan. Ibarat air yang mengalir, globalisasi bergerak dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah, dari pihak yang kuat menuju pihak yang lemah. Perubahan dalam masyarakat akan terjadi mengikuti pihak mana yang paling berpengaruh dan semua akan saling memiliki keterhubungan di bawah satu pengaruh. Jika pihak yang berpengaruh/kuat memiliki moralitas dan spiritualitas yang baik maka akan membawa rahmat bagi siapa pun, namun sebaliknya jika pihak yang berpengaruh/kuat itu memiliki moralitas dan spiritualitas yang buruk maka akan membawa bencana bagi siapa pun, terutama bagi pihak yang lemah.

Sejarah mencatat bahwa Islam pernah memimpin peradaban dunia pada abad pertengahan (sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15). Sebuah fenomena globalisasi dengan Islam sebagai pemegang kendalinya. Islam melakukan perubahan pada berbagai aspek ke seluruh dunia sesuai dengan misinya untuk menyebarkan kasih sayang Allah SWT bagi seluruh makhlukNya. Dan karena misi itu pula Allah SWT mengutus Rasul sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. Apa yang membedakannya dengan globalisasi jaman sekarang? Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc pernah menyatakan bahwa ”hakekat globalisasi adalah neo kapitalisme dan neo kolonialisme”. Arus globalisasi digunakan oleh bangsa yang kuat sebagai alat untuk menjajah bangsa lain demi mendapatkan keuntungan yang hanya memuaskan nafsu dunia belaka. Arus globaliasi inilah yang sedang kita hadapi, penjajahan model kekinian. 

Sadarkah kita ada kekuatan super power yang sedang memimpin ekonomi global saat ini. Tidak hanya melakukan penguasaan di bidang ekonomi dengan pasar bebasnya, namun juga melakukan ekspor nilai-nilai yang sayangnya bertentangan dengan nilai-nilai ketimuran yang dominan diwarnai oleh nilai-nilai Islam, salah satu contohnya seks bebas. Media sosial menjadi sarana utama yang ampuh untuk menyebarkan nilai-nilai yang mereka anggap lebih tinggi dibanding nilai-nilai lain di dunia ini. Dunia “dipaksa” takluk pada kebudayaan yang dimiliki oleh pihak super power. Tanpa kita sadari, sebagai muslim kita pelan-pelan dijauhkan dari nilai-nilai keislaman dan diperkenalkan dengan nilai-nilai yang kalau kita renungkan bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Ya inilah globalisasi, bentuk penjajahan yang melenakan.

Merdeka tapi terjajah itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi bangsa kita saat ini, khususnya umat Islam di Indonesia. Kemana umat Islam di Indonesia yang katanya mayoritas, mungkinkah sedang terlena mengikuti arus globalisasi yang begitu kuat? Mau sampai kapan kita membiarkan negara ini terombang-ambing? Perlu kita renungkan bahwa tuntutan Islam tidak hanya soal peribadatan semata, tapi bagaimana kita bisa membangun tatanan masyarakat, bangsa dan negara sesuai dan sejalan dengan nilai-nilai islam. Tidakkah ada kerinduan dalam diri kita untuk hidup terbebas dari penjajahan manusia?

Bangsa Indonesia pernah terbebas dari belenggu penjajah 70 tahun yang lalu. Sebuah anugerah yang wajib kita syukuri, sebuah karunia dari Allah SWT. Namun, sudahkan kita benar-benar merdeka? Merdeka pikiran dan jiwa kita dari belenggu-belenggu bangsa lain dan bebas mengurus bangsa kita sendiri. Jika kita masih terbelenggu, maka saatnya kita kembali membebaskan diri kita dari penjajahan. Mari kita lihat pengalaman umat Islam di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia 70 tahun yang lalu. Umat islam di negaranya sendiri, berusaha keras menemukan metode untuk bisa keluar dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi negaranya. Umat Islam di Indonesia adalah umat Islam pertama di dunia yang membangun gerakan politik yang modern pada tahun 1905 yaitu Serikat Islam. Umat Islam di Indonesia juga pernah mengalami pertarungan ideologi yang tidak pernah dialami oleh negara lain, yaitu pertarungan melawan komunisme. Umat Islam di Indonesia pernah berjuang sampai titik darah penghabisan sehingga Indonesia bebas dari kolonialisme dan akhirnya memproklamasikan berdirinya pemerintahan sendiri pada tahun 1945.  
 
Saat ini, kita umat Islam di negara kita sedang menghadapi permasalahan-permasalahan di jamannya, jaman kekinian. Kita juga sedang menghadapi sebuah bentuk penjajahan model kekinian yang membutuhkan solusi dengan model kekinian. Tentunya kita tidak ingin hanya sekedar menjadi penonton. Mampu kah kita mengulang kembali sejarah pembebasan seperti yang pernah dilakukan oleh para pejuang-pejuang kita terdahulu?

“If you want to make your dreams come true, the first thing you have to do is WAKE UP”

 
 
 
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar