7 Januari 2016

Maulid Nabi Muhammad SAW: Hanya Sekedar Ritual Tanpa Makna?

Tepat 24 Desember 2015 kemaren kita memperingati kelahiran suri tauladan kita, Rasulullah Muhammad SAW. Berbagai perayaan dilakukan di berbagai daerah, mesjid-mesjid dan pengajian, mulai dari perlombaan, salawatan, tablig akbar dan ceramah-ceramah. Tapi ada juga yang merayakannya dengan berlibur melepas lelah, nah loh. Hari besar yang diliburkan membuat hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sangat ditunggu-tunggu oleh karyawan dan pelajar karena itu berarti mereka LIBUR!! Sepertinya kata libur lebih kinclong dibanding alasan dibalik kenapa hari itu diliburkan.

Apa sih urgensi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bagi umat Islam? Ini adalah pertanyaan yang selalu menggelitik saya setiap kali bertemu dengan hari ulang tahun Rasulullah ini. Bagaimana tidak, yang saya ingat dari kecil Maulid Nabi Muhammad SAW hanya sekedar mengingat hari kelahiran Rasulullah Muhammad, 12 Rabbilul awal di tahun gajah, dimana saat itu ada tentara Abrahah yang menyerang Baitullah, sejarah kelahiran itu lah yang di ulang-ulang dalam ceramah atau tema-tema perlombaan, so buat apa??? Benarkah perayaan ulang tahun Rasulullah hanya sekedar ritual tanpa makna?

Jreng...jreng....tahun ini pertanyaan saya terjawab oleh ceramah Prof.Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini yang dibawakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kalimat pembuka dalam ceramahnya sudah membuat saya berkaca-kaca (agak lebay ya); “kita harus kaya agar kita mampu memberi, kita harus kuat agar membantu yang lemah, kita harus cemerlang agar mampu memberi penerangan, kita harus sehat agar mampu menolong yang sakit, dan kita harus mengerti agar mampu menuntun umat ke jalan yang benar”. Saya merasa ada semangat baru yang coba beliau ditransfer, “Hey kalian...jangan gitu-gitu aja, jadilah yang terbaik!”, begitu kira-kira semangat yang saya terima.

Ternyata oh ternyata pengobaran semangat ini lah alasan asal mu asal kenapa hari kelahiran Rasulullah diperingati. Berawal dari tahun 580 hijriyah pada saat umat islam hendak merebut Masjidil Aqsa dari tentara Salib, saat itu kondisi umat islam mulai kehilangan semangat perjuangan, ikatan tali persaudaraan mulai lemah, khalifah hanya sekedar simbol permersatu saja. Melihat kondisi tersebut, Sultan Salahudin al Ayubi, pemimpin kesultanan Kairo (Mesir) saat itu berinisiatif untuk membakar kembali semangat perjuangan umat islam dengan memperingati hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Wal hasil peringatan hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW dengan sayembara penulisan riwayat nabi dan puji-pujian berhasil membangkitkan semangat umat islam saat itu, dan akhirnya masjidil Aqsa dapat direbut dan menjadi mesjid sampai saat ini.

Dalam proses penyebaran Islam di nusantara, wali songo memanfaatkan peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW untuk dakwah islam dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik agar masyarakat mau mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pertanda masuk islam. Dampak yang luar biasa bisa kita rasakan dimana Islam menjadi mayoritas agama yang dipeluk oleh masyarakat indonesia saat ini.

Lalu bagaimana dengan perayaan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW di masa sekarang? Semangat apa yang umat islam butuhkan saat ini? Berkaca dari kondisi yang ada sekarang dimana Islam identik dengan terorisme, kekerasan, kemiskinan, kesemrautan, ketidakdisiplinan dan kebodohan. Umat islam seakan-akan terpecah belah. Umat islam lemah, lemah ikatan persaudaraannya, lemah daya juangnya. Umat islam tertinggal hampir di seluruh aspek kehidupan. Miris sekali, padahal islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW merupakan rahmatan lil alamin, ajaran yang diturunkan sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S 21:107)

PR besar bagi umat islam saat ini untuk kembali menjadi duta-duta islam yang menebarkan kasih sayang Allah SWT di muka bumi ini, seperti hal nya yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat terdahulu. Semangat inilah yang semestinya berkobar dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di masa sekarang ini. Semangat tentunya akan menggerakkan, Salahudin al Ayubi dan pasukannya maju ke medan perang untuk merebut Masjidil Aqsa, wali songo menciptakan kegiatan-kegiatan yang menarik untuk syiar islam. Gerak apa yang bisa kita lakukan saat ini? Inti dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah adalah tauhid, saatnya kita sebagai duta-duta islam dapat mendakwahkan ajaran tauhid. Hanya dengan mengikuti ajaran dan hukum yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad lah kasih sayang Allah SWT akan tersampaikan bagi seluruh manusia dan alam semesta. Gerak berikutnya adalah mengajak seluruh umat islam untuk kembali berjaya, untuk kembali menang dengan menguasai ilmu pengetahuan dan menjadi ahli di bidangnya masing-masing, mengangkat keterpurukan umat islam di seluruh bidang kehidupan.

Perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW belum ada pada jaman Nabi Muhammad dan para sahabat. Pada momemtum peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad ini mari kita hadirkan kembali Nabi Muhammad di dalam jiwa-jiwa kita, dengan cita-cita perjuangan Islam yang melekat di dalam dirinya yang tidak akan pernah mati sampai kapanpun. Mari kita atur kembali barisan Islam dengan menghadapkan seluruh wajah umat Islam hanya pada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah yang intinya adalah tauhid, murni semurni murninya, jauh dari kesyirikan, jauh dari segala kepentingan, hanya Allah SWT saja yang menjadi tujuan. Mari menjadi yang terbaik, tingkatkan kapasitas diri, bersama kita raih kejayaan Islam di muka bumi ini. Semoga Allah SWT meridhoi langkah-langkah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar